Yach , kisah yang mungkin tak biasa di ungkapkan dengan kata-kata , hemm
Rhisa masih asyik dengan buku
diary nya , sambil melihat-lihat
keindahan bintang di balik
jendela kamarnya , entah
kenapa ia tiba- tiba saja teringat
peristiwa , 13 tahun silam ,
yang ,masih menyisakan luka
hati yang paling dalam ,
Dulu , saat Rhisa masih SD ,
Rhisa punya teman , yach bisa di
bilang sahabat lah , namanya
Dhina .Hubungan mereka cukup
dekat , bisa di bilang seperti
saudara, berhubung umur Dhina
lebih muda dari Rhisa , jadi
Dhina sudah Rhisa anggap
seperti saudara sendiri ,
Segala susah dan senang
mereka berbagi bersama ,
begitu juga dengan orang tua
Rhisa yang sudah menganggap
nya seperti anak sendiri ,
terutama ayah nya Rhisa.
Ayah
Rhisa begitu sangat menyayangi
Dhina seperti beliau menyayangi
anak nya Rhisa .
Tapi semua itu hanya sesaat ,
semua berubah menjadi perih
yang sampai saat ini masih
Rhisa rasakan , semua berawal
saat ayah Rhisa sakit keras , saat
itu Rhisa sedih sekali , Rhisa
butuh kehadiran Dhina di sisi
nya , yach sekedar memberi
semangat atau menghibur
seperti apa yang Rhisa lakukan
saat Dhina di marah ibunya .
Dhina adalah satu-satunya
orang yang Rhisa harapkan saat
itu , tapi .sekalipun Dhina tidak
pernah datang menemui Rhisa,
apalagi untuk sekedar
menjenguk ayah Rhisa , entah
apa masalahnya sehingga ia
begitu tega dengan Rhisa.
Hingga Ayah nya Rhisa
mengehembuskan nafas
terakhir , Dhina pun tidak
muncul di hadapan Rhisa saat
itu, Rhisa hanya menahan perih
dan sedih sendirian, .
Seteleh tujuh hari pasca
meninggalnya ayah nya , Rhisa
pun mulai masuk sekolah ,meski
hati masih di rundung duka , ia
berharap dapat menemui
Dhina , hari ini dan meminta alas
an tas perubahan sikap Dhina
yang belakangan ini berubah
drastis. , tapi apa yang Rhisa
dapat , sepatah kata pun Dhina
tidak menyapa Rhisa ,walaupun
sekedar untuk menanyakan
kabar Rhisa , sehingga mau
tidak mau Rhisa pun nekat
untuk kerumah nya minta
penjelasan dari Dhina
TERLAMBAT ! ternyata Dhina
sudah pindah rumah ,Rhisa juga
tidak tahu dia pindah di mana
sekarang , yang ada di benak
Rhisa sekarang adalah
sebenarnya apa yang terjadi ,
dan ini tidak adil rasanya buat
Rhisa. Dhina sahabat Rhisa telah
pergi .
Seiring berjalan nya waktu dan
setelah sekian lama , tiba- tiba
saja Rhisa tidak sengaja
bertemu dengannya di
jalan,Dhina bersama dengan
orang lain saat itu ,Rhisa pun
mengejar nya sambil
memanggil- manggil namanya ,
Dhina sempat menoleh kearah
Rhisa , dan setelah itu ia pergi
berlalu meninggalkan Rhisa.
Rhisa pun lagi –lagi kehilangan
jejak , Dhina sahabat nya itu , ia
pun menangis , tiba- tiba
muncul kebencian yang sangat
luar biasa dalam dirinya. Dan ia
pun berjanji pada diri nya
sendiri ,
Mulai saat itu , Rhisa akan
berhenti untuk mencari Dhina
dan berhenti untuk meminta
penjelasan lagi , habis sudah
kesabaran Rhisa , yang ada
hanya sebuah luka yang
mendalam,. Pengalaman yang
begitu menyakitkan membuat
Rhisa tidak percaya lagi apa
yang nama nya ‘SAHABAT “
.
Tanpa terasa air mata Rhisa
mengalir menetes membasahi
buku diary nya, Rhisa pun
cepat” mengusap air ,matany
itu dan berlalu , hingga ia
terlelap bersama mimpi –mimpi
hingga mentari menyambut nya
Rhisa masih asyik dengan buku
diary nya , sambil melihat-lihat
keindahan bintang di balik
jendela kamarnya , entah
kenapa ia tiba- tiba saja teringat
peristiwa , 13 tahun silam ,
yang ,masih menyisakan luka
hati yang paling dalam ,
Dulu , saat Rhisa masih SD ,
Rhisa punya teman , yach bisa di
bilang sahabat lah , namanya
Dhina .Hubungan mereka cukup
dekat , bisa di bilang seperti
saudara, berhubung umur Dhina
lebih muda dari Rhisa , jadi
Dhina sudah Rhisa anggap
seperti saudara sendiri ,
Segala susah dan senang
mereka berbagi bersama ,
begitu juga dengan orang tua
Rhisa yang sudah menganggap
nya seperti anak sendiri ,
terutama ayah nya Rhisa.
Ayah
Rhisa begitu sangat menyayangi
Dhina seperti beliau menyayangi
anak nya Rhisa .
Tapi semua itu hanya sesaat ,
semua berubah menjadi perih
yang sampai saat ini masih
Rhisa rasakan , semua berawal
saat ayah Rhisa sakit keras , saat
itu Rhisa sedih sekali , Rhisa
butuh kehadiran Dhina di sisi
nya , yach sekedar memberi
semangat atau menghibur
seperti apa yang Rhisa lakukan
saat Dhina di marah ibunya .
Dhina adalah satu-satunya
orang yang Rhisa harapkan saat
itu , tapi .sekalipun Dhina tidak
pernah datang menemui Rhisa,
apalagi untuk sekedar
menjenguk ayah Rhisa , entah
apa masalahnya sehingga ia
begitu tega dengan Rhisa.
Hingga Ayah nya Rhisa
mengehembuskan nafas
terakhir , Dhina pun tidak
muncul di hadapan Rhisa saat
itu, Rhisa hanya menahan perih
dan sedih sendirian, .
Seteleh tujuh hari pasca
meninggalnya ayah nya , Rhisa
pun mulai masuk sekolah ,meski
hati masih di rundung duka , ia
berharap dapat menemui
Dhina , hari ini dan meminta alas
an tas perubahan sikap Dhina
yang belakangan ini berubah
drastis. , tapi apa yang Rhisa
dapat , sepatah kata pun Dhina
tidak menyapa Rhisa ,walaupun
sekedar untuk menanyakan
kabar Rhisa , sehingga mau
tidak mau Rhisa pun nekat
untuk kerumah nya minta
penjelasan dari Dhina
TERLAMBAT ! ternyata Dhina
sudah pindah rumah ,Rhisa juga
tidak tahu dia pindah di mana
sekarang , yang ada di benak
Rhisa sekarang adalah
sebenarnya apa yang terjadi ,
dan ini tidak adil rasanya buat
Rhisa. Dhina sahabat Rhisa telah
pergi .
Seiring berjalan nya waktu dan
setelah sekian lama , tiba- tiba
saja Rhisa tidak sengaja
bertemu dengannya di
jalan,Dhina bersama dengan
orang lain saat itu ,Rhisa pun
mengejar nya sambil
memanggil- manggil namanya ,
Dhina sempat menoleh kearah
Rhisa , dan setelah itu ia pergi
berlalu meninggalkan Rhisa.
Rhisa pun lagi –lagi kehilangan
jejak , Dhina sahabat nya itu , ia
pun menangis , tiba- tiba
muncul kebencian yang sangat
luar biasa dalam dirinya. Dan ia
pun berjanji pada diri nya
sendiri ,
Mulai saat itu , Rhisa akan
berhenti untuk mencari Dhina
dan berhenti untuk meminta
penjelasan lagi , habis sudah
kesabaran Rhisa , yang ada
hanya sebuah luka yang
mendalam,. Pengalaman yang
begitu menyakitkan membuat
Rhisa tidak percaya lagi apa
yang nama nya ‘SAHABAT “
.
Tanpa terasa air mata Rhisa
mengalir menetes membasahi
buku diary nya, Rhisa pun
cepat” mengusap air ,matany
itu dan berlalu , hingga ia
terlelap bersama mimpi –mimpi
hingga mentari menyambut nya
Komentar
Posting Komentar